Akhir-akhir ini, media sosial begitu ramai dengan berita yang membuat kita bertanya: ada apa dengan dunia yang sedang kita tinggali?

Kerusakan lingkungan akibat keserakahan manusia, penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, ketidakadilan, hingga derasnya arus informasi yang tidak selalu mendidik. Anak-anak dan remaja kita tumbuh di tengah dunia yang semakin mudah memberi mereka informasi, tetapi tidak selalu mengajarkan bagaimana menyikapinya.

Kita hidup di zaman ketika ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu pesat. Namun, mengapa manusia masih bisa kehilangan arah?

Mungkin persoalannya bukan karena manusia kekurangan ilmu. Kita memiliki pengetahuan, teknologi, kekayaan, dan sistem yang semakin maju. Tetapi semua itu tetap berada di tangan manusia.

Ilmu tanpa kebijaksanaan dapat kehilangan arah.

Kekuasaan tanpa amanah dapat menjadi kesewenang-wenangan.

Kebebasan tanpa tanggung jawab dapat menjadi pembenaran atas segala keinginan.

Maka, barangkali yang perlu kita bangun bukan hanya sistem yang baik, tetapi juga manusia yang baik untuk menjalankannya. Dan di sinilah kita kembali melihat sosok Muhammad SAW.

Rasulullah SAW tidak hanya datang untuk mengajarkan manusia tentang ibadah. Beliau membentuk manusia yang beriman sekaligus berakhlak, berilmu sekaligus beradab, memiliki kekuasaan sekaligus amanah, dan memiliki kebebasan sekaligus tanggung jawab.

Sebagaimana sabda beliau:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
(HR. Ahmad)

Hadis ini terasa begitu sederhana, tetapi justru sangat dalam. Sebab persoalan besar yang kita lihat hari ini sering kali kembali kepada persoalan yang sangat mendasar: akhlak manusia.

Ketika seseorang memiliki ilmu tetapi tidak jujur, ketika memiliki kekuasaan tetapi tidak amanah, ketika memiliki kebebasan tetapi tidak mampu mengendalikan diri, ketika memiliki harta tetapi kehilangan kepedulian—di situlah kita melihat bahwa kecerdasan dan kemajuan belum tentu membuat manusia menjadi lebih baik.

Maka pendidikan pun tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Anak ini sudah tahu apa?”. Kita juga perlu bertanya: “Anak ini sedang tumbuh menjadi manusia seperti apa?”

Sebab guru tidak hanya mengajarkan ilmu. Orang tua tidak hanya membesarkan anak. Dan sekolah tidak hanya mempersiapkan masa depan. Kita semua sedang ikut membentuk manusia. Mungkin kita tidak dapat memperbaiki seluruh dunia sekaligus. Tetapi kita dapat memulainya dari ruang yang paling dekat: dari diri sendiri, keluarga, kelas, dan lingkungan kita.

Maulid Nabi akhirnya bukan hanya tentang mengingat kelahiran Muhammad SAW. Ia adalah kesempatan untuk kembali bertanya: sudahkah akhlak Muhammad SAW hadir dalam cara kita hidup, mendidik, memimpin, dan memperlakukan sesama? Sebab dunia mungkin tidak sedang kekurangan manusia yang pintar. Dunia sedang membutuhkan manusia yang tahu untuk apa kepintarannya digunakan.

Author By: Bu Shely Fitriana Dewi, S. Ag.

Postingan Terkait