
Jakarta – Quraish Shihab dalam karyanya, Membumikan Al-Quran, menyebutkan bahwa tidak ada bacaan yang seperti Al-Quran, yang isinya dipelajari bukan hanya dari susunan redaksi dan pemilihan kosa katanya, tetapi kandungan yang tersurat, tersirat, bahkan sampai pada kesan yang ditimbulkannya. Tiada bacaan seperti Al-Quran yang sangat diatur tata cara membacanya; mana yang panjang dan pendek, mana yang tebal dan tipis, bahkan hingga diatur cara berhenti dan memulai bacaan (waqaf dan ibtida), karena semuanya dapat mempengaruhi pembacaan terhadap makna.
Al-Quran merupakan kitab suci umat Islam. Menurut Manna Khalil Qattan, Al-Quran berasal dari kata qira’ah, yakni masdar (infinitif) dari kata qara’a, qira’atan wa qur’anan. Qara’a memiliki arti mengumpulkan, menghimpun dan qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lainnya sehingga tersusun rapih.[1] Qara’a juga bisa diartikan membaca, sehingga Quran berarti bacaan. Imam Syafi’I dan Imam Al-Suyuthi’ mengatakan bahwa Al-Quran adalah nama khas bagi kitab Allah yang tidak terikat dengan pecahan kata manapun sebagaimana kitab samawi lainnya (Taurat, Zabur, dan Injil).
Secara istilah, Al-Quran dapat didefinisikan sebagai kalam (perkataan) Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. melalui Malaikat Jibril sebagai mukjizat, yang diriwayatkan secara mutawattir[2], serta dinilai ibadah ketika membacanya.[3] Dari istilah ini, maka Al-Quran bukanlah perkataan Nabi, Malaikat, Jin, Manusia atau makhluk lainnya, melainkan hanya kalam atau ucapan Allah semata. Baik lafadz (bacaan) atau pun maknanya semuanya bersumber dari Allah Swt. untuk pedoman kehidupan manusia di dunia dan akhirat.
Al-Quran diturunkan dengan dua tahap: pertama, secara langsung di malam lailatul qadr ke Baitul Izzah di langit dunia; kedua, secara bertahap selama 23 tahun.[4] Sebagaimana firman Allah Swt:
وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا
Al-Qur’an Kami turunkan berangsur-angsur agar engkau (Nabi Muhammad) membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan dan Kami benar-benar menurunkannya secara bertahap. (Qs. Al-Isra/17: 106)
Menurut Manna Al-Qattan, hikmah diturunkannya al-Quran secara berangsur-angsur diantaranya adalah untuk: menguatkan dan meneguhkan hati Rasululllah saw; menjawab satu persatu tantangan dan masalah yang datang beriringan juga sebagai mukjizat untuk melemahkan musuh; dan mempermudah hafalan juga pemahaman. Setiap kali ayat Al-Quran turun, satu atau beberapa ayat, para sahabat segera menghafalnya dan memikirkan makna dan hukumnya. Tradisi menghafal Al-Quran sejak zaman Nabi inilah yang harus kita lestarikan, sebagai cara kita menghormati perjuangan Raulullah, para sahabat, dan para pahlawan Islam lainnya, juga sebagai bentuk pengabdian kepada Allah Swt, dengan menjaga kalam yang telah difirmankannya.
Al-Quran merupakan sumber pedoman hidup bagi umat manusia. Allah Swt berfirman,
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ ( البقرة/2: 2)
Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (Al-Baqarah/2:2)
Kandungan isi Al-Quran begitu beragam. Bukan hanya kitab yang menjelaskan tentang aqidah dan akhlak. Tidak pula isinya tentang surga dan neraka semata. Di dalamnya dijelaskan tentang perintah shalat dan puasa sebagai tali hubung antara manusia dan tuhannya, zakat sebagai ajaran untuk berbagi dan mengeluarkan hak untuk orang yang membutuhkan, transaksi jual beli, riba, makanan halal dan haram, pernikahan, bahkan hingga menyangkut dengan kebersihan seperti wudhu, tayamum, dan mandi wajib ada dijelaskan di dalam al-Qur’an.
Al-Quran juga merupakan kitab sains. Al-Quran menjelaskan tentang asal usul manusia, proses pembentukan janin hingga menjadi manusia (QS. An-Nur: 12-15), proses pembentukan bumi (QS. Fussilat: 11), matahari dan bulan memiliki garis edar masing-masing (QS. Al-Anbiya: 33), proses pembentuka hujan (QS. An-Nur : 48) hingga pertemuan air tawar dan air laut (QS. Ar-Rahman/55: 19-20) yang fenomenal di masa sekarang karena termention Al-Qur’an. Belum lagi ayat-ayat yang maknanya tersirat yang bisa multi tafsir. Misalnya tentang kerusakan alam karena ulah tangan manusia, yang rasanya semakin nyata
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١ ( الرّوم/30: 41)
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Rum/30:41)
Demikianlah Al-Quran yang kaya akan keilmuan, yang isinya terus relate dalam kehidupan sehingga Al-Quran sangat mampu dijadikan sandaran dan terus dikaji isinya. Karena mulai dari pelurusan akidah dan moral, sains, hingga politik, Al-Quran cukup tegas dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan. Tidak ada kitab sekomplit Al-Quran. Maka inilah Al-Quran yang sudah seharusnya menjadi bacaan dan pedoman hidup di dunia dan di akhirat.
[1] Manna’ Khalil Al-Qattan. Ulumul Quran. Terj. Mudzakir, AS. (Bogor: Lintera AntarNusa, 2017), 15.
[2] Mutawattir adalah apa yang diriwayatkan (disampaikan) oleh lebih dari 10 periwayat, yang masing-masing periwayat tidak mungkin bersepakat berdusta. (Lihat Mahmud Al-Tahan. Mustalah al-Hadits. (Riyad: Maktabah Ma’arif Li Nasyr wa Al-Tauzi’, 1430H), 17.
[3] Hafidz Abdurrahman. Ulumul Quran Praktis. (Bogor: CV IDeA Pustaka Utama, 2003), 5.
[4] Mengenai berapa lama Al-Quran turun secara berangsur-angsur, ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat membulatkannya 20 tahun, 22 tahun, 23 tahun dan 25 tahun. Hal ini didasarkan pada perbedaan pendapat tentang lamanya beliau tinggal di Mekkah. (Lihat Manna’ Khalil Al-Qattan. Ulumul Quran. Terj. Mudzakir, AS. 142-155)
